MUARAENIM – Kebisingan keras dari mesin diesel memecahkan keheningan siang di antara hamparan hijau yang dulu dalam kawasan kebun karet.
Dalam teriknya matahari yang mengubah tanah merah menjadi berdebu, beberapa pria berhelm keselamatan kuning dan ptih terlihat bekerja keras. Pakaian kerja mereka kini tidak lagi bersih—tercemar kotaran debu, tanah, peluh, dan noda hitam minyak mentah yang mulai kering.
Di sini mereka berada, di salah satu lokasi pengeboran minyak yang disebut para pekerja sebagai “Sumur Cantik” atau dikenal juga sebagai Sumur Doa.
Sebuah ironi dari suatu nama, sumur ini disebut “cantik” bukan karena lingkungan yang bersahabat atau panorama yang menawan. Bagi pekerja dan operator bor di lapangan, “cantik” merupakan sinyal untuk potensi besar. Struktur geologinya menjanjikan kandungan minyak yang melimpah. Akan tetapi, di balik pesona potensi tersebut, terdapat medan liar yang siap menguji kemampuan manusia.
Di bawah panasnya sinar matahari membuat suasana lokasi, kini berdiri fasilitas produksi gas bumi yang menjadi salah satu penopang energi nasional. Tempat itu bernama lapangan pengeboran minyak “Sumur Cantik” yang berdiri di area operasi seluas lahan 1,2 hektare.
Lapangan yang dioperasikan PT Sele Raya Belida (SRB) merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) ini menjadi bagian penting dari wilayah kerja Belida, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan yang terus dikembangkan guna menjaga pasokan energi bagi Indonesia.
Tanpa pengeboran sumur migas baru, cadangan migas yang ada akan habis, dan produksi migas nasional bias terancam menurun. Namun dibalik tagert 1 juta barel perhari tersebut, terdapat kisah menarik dari pekerja lapangan yang berjibaku setiap hari di bawah terik matahri, angina, hujan, petir, dan malam yang dingin.
Para pekerja adalah pejuang lapangan yang bekerja keras di sumur minyak PT PT Sele Raya Belida untuk memenuhi target produksi pemerintah. Mereka adalah garda terdepan dari proses pengeboran yang menuntut dedikasi tinggi serta kesiapan menghadapi berbagai risiko. Mereka bekerja siang dan malam dalam kondisi yang menantang dan penuh risiko bahkan harus rela menahan rindu ingin berkumpul bersama keluarga.
Bersaing dengan Angka Angkat Nasional
Eksplorasi di Sumur Cantik adalah hal yang lebih dari sekadar proyek pengeboran biasa. Di pundak para pekerja ini, ada beban tanggung jawab yang besar. Indonesia sedang berupaya maksimal untuk mencapai sasaran produksi minyak domestik demi menjaga kedaulatan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor. Setiap meter dari mata bor yang menjangkau lapisan tanah adalah peluang baru untuk ketahanan energi bangsa.
“Tiap hari adalah kompetisi,” ujar Field Superintendent PT Sele Raya Belida, Elvi Kurnia Hakim, Senin (8/6/2026) yang telah menghabiskan setengah hidupnya di rig pengeboran. Mata merahnya menandakan kurang tidur, namun fokusnya tetap terjaga pada kedalaman bor.
“Warga di Indonesia khusus Sumatera Selatan sadar bahwa bahan bakar ada di SPBU.” Mereka tidak mengetahui, untuk memperoleh setetes minyak dari dalam perut bumi, ada serangkaian usaha yang panjang di tengah hutan seperti ini. “Sumber Cantik ini menjadi harapan bagi kita semua, tetapi dia juga penuh dengan kejutan,” kata Elvi sambil tersenyum tipis usai acara Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan dalam kegiatan field trip yang digelar SKK Migas Perwakilan Sumbagsel bersama PT Sele Raya Belida (SRB).
Ia menceritakan, nama “Sumur Cantik” lahir dari harapan besar agar sumur terseut mampu memberikan produksi yang optimal dan berkelanjutan.
“Nama Sumur Cantik ini merupakan doa dan harapan agar sumur yang dibangun mampu memberikan hasil produksi yang baik. Selain itu, dahulu kawasan ini masih berupa hutan dan sering dikaitkan dengan cerita masyarakat tentang keberadaan tetangga yang tak kasat mata. Dari situlah kemudian muncul nama Sumur Cantik,” ujarnya.
Meski namanya terdengar sederhana, Sumur Cantik menjadi bagian penting dalam rantai produksi migas yang menopang kebutuhan energi nasional.
Menembus formasi batuan yang padat ribuan meter di bawah permukaan tanah mengandung risiko yang tinggi. Jika tekanan di sumur tidak diatur dengan baik, kemungkinan terjadinya blowout (semburan liar) atau pipa terjebak dapat terjadi kapan saja.
Menundukkan Sang Indah untuk Masa Depan
Menjelang siang, suara sorak-sorai lemah terdengar dari arah lantai rig. Sinyal dari bawah tanah menandakan bahwa mata bor telah mencapai zona target dengan aman. Tekanan tetap stabil, dan sampel batuan menunjukkan tingkat kejenuhan minyak yang tinggi. “Sang Cantik” sepertinya telah mulai bisa dijinakkan.
Elvi dan seluruh tim merasa lega, meskipun pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai. Setelah ini, evaluasi dan produksi masih perlu dilanjutkan.
Perjalanan untuk mencapai sasaran energi nasional memang masih jauh dan sulit. Namun, selagi ujung bor terus berputar dan para penakluk sumur ini tetap teguh di atas rig, harapan itu akan selalu ada. Di tengah hutan yang sunyi, mereka terus menggali harapan, memastikan bahwa cahaya energi Indonesia tidak akan pernah mati.
Lapangan Cantik awalnya diperkirakan hanya beroperasi hingga tahun 2019. Namun berkat berbagai upaya optimalisasi dan pengelolaan lapangan yang baik, hingga kini lapangan tersebut masih mampu berproduksi dan memberikan kontribusi bagi kebutuhan energi nasional.
Saat ini Lapangan Cantik memiliki delapan sumur produksi. Dari jumlah tersebut, satu sumur masih aktif dan terus mendukung produksi gas perusahaan. Produksi gas dari lapangan ini mencapai sekitar 1,3 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day)
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Safei Syafri, menuturkan sektor hulu migas saat ini menghadapi tantangan besar karena sumber daya migas merupakan energi yang tidak dapat diperbarui.
Karena itu, berbagai strategi dilakukan untuk menjaga produksi nasional tetap stabil di tengah penurunan alamiah lapangan-lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
“Tugas utama kami menahan laju penurunan produksi minyak,” pungkas Safei.
Dikatakan Safei, media sangat berperan penting untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai kontribusi sektor migas terhadap pembangunan dan ketahanan energi nasional.
Public Relation PT Sele Raya Belida, Valentina, menjelaskan perusahaan sendiri sudah memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Seperti program di bidang lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan kesehatan.
“Perusahaan sepanjang 2025 sudah memberikan peralatan kesehatan, sunatan massal, program tambahan gizi bagi ibu hamil dan lansia, rehabilitasi sekolah dasar di Muara Enim, perbaikan fasilitas PAUD di Banyuasin, hingga penanaman mangrove dan pembangunan fasilitas umum di sejumlah wilayah,” jelas Valentina. (novasriady)













