BeritaPAGARALAM

Kabut Asap Pekat Selimuti Pagar Alam, Dinkes Gencarkan Pembagian Masker

31
×

Kabut Asap Pekat Selimuti Pagar Alam, Dinkes Gencarkan Pembagian Masker

Sebarkan artikel ini

PAGAR ALAM, Metrosumatera.id – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, sejak awal Oktober 2026. Kondisi tersebut terpantau pada Selasa (13/10/2026), dengan jarak pandang yang dilaporkan menurun di sejumlah titik.

Kabut asap terlihat mengepung kawasan Kota Pagar Alam, salah satunya di sekitar Gedung DPRD Kota Pagar Alam. Kondisi tersebut juga terekam dalam video amatir warga yang memperlihatkan pekatnya asap hingga membuat langit tampak putih dan mengurangi jarak pandang.

Salah seorang warga Pagar Alam Selatan, Boy, mengatakan kabut asap semakin terasa pada siang hari. Menurutnya, kondisi tersebut membuat jarak pandang berkurang dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat.

“Jarak pandang menjadi terbatas akibat kabut asap pekat. Mata terasa perih dan dada juga terasa sesak,” ujar Boy saat ditemui di kawasan depan Gedung DPRD Kota Pagar Alam, Selasa (13/10/2026).

Ia menambahkan, kabut asap terlihat menyelimuti kawasan tersebut saat dirinya sedang beraktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kabut asap yang menyelimuti Kota Pagar Alam diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Namun, sumber pasti asap yang menyelimuti Kota Pagar Alam masih perlu dipastikan melalui pemantauan lebih lanjut.

Dampak kabut asap mulai dikhawatirkan mengganggu kesehatan masyarakat. Keluhan yang berpotensi muncul antara lain mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, hingga gangguan pernapasan. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat mengganggu aktivitas warga, khususnya yang berkegiatan di luar ruangan dan pengguna jalan.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam, Ali Akbar Fitriansyah, SE., M.Si., mengatakan pihaknya melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak polusi udara akibat karhutla terhadap kesehatan masyarakat.

Ia mengimbau warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kabut asap memburuk, serta memperhatikan kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi bayi, balita, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit jantung.

Dinas Kesehatan juga mendorong fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit, untuk memberikan penanganan kepada masyarakat yang mengalami keluhan akibat paparan asap, seperti batuk dan sesak napas.

“Upaya pencegahan terus kami lakukan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/10/2026).

Ali Akbar menjelaskan, sejumlah unit pelaksana teknis daerah (UPTD) puskesmas telah melaksanakan kegiatan pembagian masker kepada masyarakat di wilayah kerja masing-masing.

UPTD Puskesmas Bumi Agung, Puskesmas Pengandonan, Puskesmas Bandar, Puskesmas Sidorejo, dan Puskesmas Pengaringan turut melakukan kegiatan pembagian masker sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat dari paparan asap.

Selain itu, tim Dinas Kesehatan juga membagikan masker di kawasan Jam Gadang, tepatnya di depan SMA Negeri 1 Pagar Alam, untuk membantu mengurangi risiko masyarakat menghirup polusi udara akibat karhutla.

Tidak hanya pembagian masker, petugas sanitasi lingkungan di puskesmas juga melaksanakan Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruang (SKUDR). Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan masing-masing puskesmas untuk memantau kualitas udara dalam ruangan pada 30 rumah tangga.

Melalui berbagai langkah tersebut, Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam berharap masyarakat dapat lebih terlindungi dari dampak kabut asap. Warga juga diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk.

(LEN)